Senin, 18 Agustus 2008

Dirgahayu Republik Indonesia


Pada tanggal 17 Agustus 1945 lalu proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Hari ini tepat 63 tahun peristiwa itu.

Terbersit sebuah pertanyaan : "63 tahun sudah negara kita merdeka dari penjajahan bangsa asing, tetapi benarkah kita sudah merdeka?"
Dibandingkan negara-negara lain yang usianya lebih muda, taruhlah negara tetangga kita Singapura, ternyata negara kita masih jauh ketinggalan. Lantas, apa arti kemerdekaan selama ini? Ngapain aja kita?

Ya...Apakah kita benar-benar sudah merdeka ? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari para pencuri uang rakyat dan sebagainya. Adakah niat baik dari para pemimpin kita untuk membangun bangsa ini?

Kalau boleh saya bertanya : "Apakah praktek-praktek tidak jujur dari para pejabat, anggota dewan, penegak hukum dan sebagainya masih ada?". Dongeng tentang oknum pejabat, oknum anggota dewan dan oknum-oknum lainnya yang sering memeras pengusaha sudah seperti legenda. Mungkin tak akan hilang oleh jaman.

Pembangunan infrastruktur seperti misalnya jalan, gedung dan sebagainya baru sebentar sudah rusak, kualitasnyapun banyak yang payah. namun kalau itu terjadi kita tak bisa menyalahkan 100% kepada pengusaha / kontraktornya. Habis, baru dari lelang sudah keluar uang, belum lagi kalau para oknum meminta uang panjar di depan, atau mungkin ada juga oknum wakil rakyat yang sudah memesan proyeknya, dengan janji akan dibantu pada saat rapat angaran. Atau mungkin juga pelaksananya menyalahkan kondisi alamnya (jalan ini cepat rusak karena struktur tanahnya yang asam dan sebagainya). Wah, kalau alasannya ini saya pengin ketawa...Belanda membangun gedung bisa bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun pada jaman dulu, sebelum ada komputer bahkan. Kira-kira apa yang membuat bangunan Belanda bisa kuat dan bagus kualitasnya ? Saya rasa niatnya.

Di televisi, koran atau media lainnya kita tahu bahwa banyak oknum pejabat yang tertangkap karena dituduh melakukan korupsi (jumlahnyapun bukan main-main). Begitu pula, beberapa oknum anggota DPR maupun mantan anggota DPR (yang katanya mewakili rakyat) juga tertangkap oleh KPK (jumlahnyapun juga luar biasa).

Saya tak habis pikir, mengapa mereka begitu, mungkin mereka lebih loyal terhadap partainya daripada kepada rakyat Indonesia. Mungkin mereka akan mati-matian mengejar setoran untuk partainya (benarkah), sehingga segala cara akan dilakukan. Kalau seandainya begitu mungkin perlu dikaji lagi apakah partai diperlukan untuk kemajuan bangsa ini. Jangan-jangan ada orang yang mendirikan partai untuk dapat ikut pemilu dan dapat bantuan lagi dari pemerintah (benarkah ? ...semoga tidak ada yang begitu)

63 tahun sudah kita merdeka dari penjajah. Maksud saya penjajah asing. Tapi sekarang ternyata mungkin lebih banyak kita dijajah oleh bangsa kita sendiri. Dijajah oleh ketamakan bangsa-bangsa kita sendiri, yang semakin tak peduli dengan para rakyat kecil. Kekerasan masih mewarnai hidup kebangsaan kita. Anarki dan kekerasan oleh kelompok tertentu yang dibiarkan tanpa tindakan yang tegas. Beras antri, minyak antri, apalagi yang antri ya (kata nenek saya di tahun 60-an hal seperti itu sudah biasa -- kalau begitu ini masih jadul?)

Beberapa waktu saya pernah membaca di koran bahwa rasa nasionalis para pemuda sudah mulai luntur. Benarkah ? Nanti dulu...kalau nasionalis sebatas simbol mungkin ya, tapi kalau dalam tindakan mungkin lebih banyak generasi tua yang kurang bahkan tidak nasionalis (buktinya banyak yang mengambil uang rakyat, menerima suap dengan jumlah yang amat besar). Saya ingat waktu dulu setelah lulus dokter tahun 1993, ada seorang teman saya yang merupakan pengurus organisasi mahasiswa yang dari namanya saja sudah berbau nasionalis. Namun ketika teman saya (dia orang asli keturunan Indonesia) itu mendapatkan tugas untuk menjadi dokter PTT (Pegawai Tidak tetap) di propinsi Timor Timur, ternyata tidak mau berangkat,dengan sejuta alasan. Sedangkan teman saya yang keturunan etnis Tionghoa malah bersedia berangkat ke Timor Timur tanpa banyak protes. Nah, kalau begini bagaimana? Kalau sudah begini sebetulnya siapa yang benar-benar orang Indonesia ?

Pernah suatu ketika teman saya seorang Perancis bertanya kepada saya :"Katanya negaramu berdasar ke-Tuhan-an, sebagian besar bangsamu beragama, tapi kenapa banyak sekali kekerasan terjadi di sana?" Saya tak bisa menjawab, saya renungkan, ternyata tidak salah apa yang ditanyakan teman saya waktu itu...dan mungkin sekarang dia akan lebih heran lagi karena kalau mengetahui semakin banyak koruptor kelas kakap tertangkap atau mengetahui bahwa menurut survey ternyata Indonesia menempati peringkat atas dalam korupsi...

Akhirnya, ya...saya berharap masih banyak calon pemimpin bangsa yang bersih, bermartabat dan cakap yang kelak mampu membawa Indonesia tercinta ini menjadi negara besar, terhormat dan adil...Memang tak ada yang sempurna di dunia, namun harapan saya pasti ada...Dan sebetulnya kita semua masing-masing bisa memulai dengan diri kita, dengan keluarga kita, dengan anak-anak kita...

Marilah kita mulai dari sekarang, dari satu langkah ke depan untuk mencapai jarak ribuan mil.....

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA .......