Jumat, 23 Mei 2008

23 Mei 2008


Ini kali pertama kucoba ngisi bloggku. Bingung apa yang mau kutulis.

Hari ini di rumah listrik mati. Dari pagi jam 06:30 an sampai jam 18:00 sekarang ini masih belum menyala. Ya, beginilah kehidupan di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sudah bosan rasanya dengan keadaan ini, tapi apa boleh buat. Di kota ini pasokan listrik masih bergantung dengan propinsi Kalimantan Selatan, sementara daya ya tersedia juga terbatas.

Seabad kebangkitan nasional, sepuluh tahun reformasi, rasanya bangsa ini tak mengalami banyak kemajuan, baik fisik maupun non fisik.

Coba aja lihat, masih banyak pejabat atau wakil rakyat yang lebih memikirkan kepentingan pribadi, sementara masih banyak sekali rakyat yang menderita. Mereka antri raskin, antri blt, minyak tanah dan mungkin juga sedang antri menjadi lebih mskin.

Kemarin ketika menonton berita di salah satu tv swasta, banyak diberitakan kasus bunuh diri karena himpitan ekonomi. O la la.

Saya jadi teringat, ketika masih sekolah di Perancis, ada teman saya cewek dari Maroko (sampai sekarang masih berhubungan baik) bertanya :" Kalau negaramu (Indonesia) punya tambang minyak, batubara, emas dsb, berarti negaramu kaya dong".

Saya tersenyum kecut. Pikirku ,Ya, negaraku sih kaya, tapi banyak rakyat yang miskin.

Ketika melihat acara TV One kemarin , saya sedih. Disebutkan di situ (acaranya lupa, kalau tak salah di Republik Mimpi--ada background lagu "Ibu Pertiwi"), negara Indonesia dengan segala kekayaan alamnya ternyata jumlah penduduk miskinnya semakin bertambah. Penebangan hutan menduduki peringkat utama (katanya masuk di buku rekor dunia), penambangan tembaga / emas oleh sebuah perusahaan asing di Papua ternyata kontribusinya untuk daerah dan lingkungan amat sedikit dibanding kerusakan terhadap lingkungannya. Juga ada penambangan minyak di suatu daerah dengan sistem kerja sama entah apa namanya, ternyata pendapatan negara dari minyak tersebut diperoleh hanya dari pajaknya saja, tidak ada pemasukan negara dari keuntungan lainnya. Mengapa bisa begitu? Siapa sih yang membuat kontrak seperti itu?

Ada lagi pengalaman waktu dulu kerja di offshore di salah satu perusahaan minyak. Saat itu superintendent-nya (orang Indonesia) bilang. Yang bikin kontrak kerjasama explorasi (yang dari pihak Indonesia) itu pintar2 bodoh. Kutanyakan bodohnya di mana dan pintarnya dimana? Katanya :"Gimana gak bodoh kalau pembagiannya misalnya 85% untuk Indonesia dan 15% untuk perusahaan minyak."

“Lho itu kan pinter ? Kita yang lebih banyak”, kataku.

"Kalo 85% itu dari semuanya itu pinter, tapi 85% itu setelah dipotong biaya operasional, jadi lebih sedikit dari keuntungan mereka", lanjutnya.

Oh iya ya. Kupikir lagi, wah apalagi kalau biaya operasionalnya 'dibikin' lebih besar atau diakalin.

Lantas pinternya di mana?

Katanya:"Ya, kalau bikin kontrak yang menguntungkan perusahaan tentunya bisa mendapat keuntungan dari situ kan? Nah kalau iya kan orang itu pinter..(maksudnya pinter masukin uang ke kantongnya sendiri).” O la la.

Pernah seorang teman Perancis bertanya padaku karena heran mengetahui aku setiap minggu ke gereja (dia atheis). Dia bertanya apakah orang Indonesia semua beragama, rajin bersembahyang? Kubilang bahwa dasar negara sila pertama adalah keTuhanan YME dan sebagian besar bersembahyang menurut agama masing2.

Katanya :"Kalau begitu kenapa sering terjadi kekerasan di negaramu? Padahal agama mengajarkan hal2 baik. Apakah pelaku kekerasan tidak dihukum? “…

Ya...c'est notre pay. Je ne sais pas. ...

Udah dulu ah

3 komentar:

eddy mengatakan...

ya disyukuri aja.. Pas minyak naik, eh kita malah gak menikmati kenaikan harga minyak dunia..

jancgreen mengatakan...

minyak naik gunung terus dan pasti nggak mau turun lagi-dokter hery sudah keenakan diatas. tp betul kasihan yang dibawah, naik sich boleh2 aje. tp ya mbok iyao kebutuhan rakyat yang lain tersubsidi seoerti pendidikan yang malah semakin mahal...

Herry dan Ririn mengatakan...

kalau harga naik terus, selain kita bisa demo ke pemerintah untuk menurunkan harga-harga, sebaiknya juga mulai mencari sumber penghasilan kedua, ketiga, dst ( yang halal tentu ). lha wong kapal aja ada pelampung dan sekoci penyelamatnya, masa kapal keluarga kita tidak ada sekoci penyelamatnya... :)